A. Pengertian Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah
Insaniyah
Sungguh bahwa allah SWT menempatkan manusia keseluruhan sebagai Bani Adam dalam
kedudukan yang mulia, "Walaqad karramna Bani Adam."(Q/17:70). Manusia
diciptakan Allah SWT dengan identitas yang berbeda-beda agar mereka saling
mengenal dan saling memberi manfaatyang satu dengan yang lainnya (Q/49:13).
Tiap-tiap umat diberi aturan dan jalan (yang berbeda), padahal seandainya Tuhan
mau,seluruh manusia bisa disatukan dalam kesatuan umat. Allah SWTmenciptakan
perbedaan itu untuk memberikan peluang berkompetisi secara sehat dalam
menggapai kebajikan, "fastabiqulkhairat."(Q/5:48). Oleh karena itu
sebagaimana dikatakan oleh rasul SAW, agar seluruh manusia itu menjadi saudara
antara satu dengan yang lainnya, "Wakunu 'ibadallahi ikhwana."(Hadist
Bukhari).
Dalam bahasa arab, ada kalimat "ukhuwah."(Persaudaraan), ada kalimat
"ikhwah"(saudara seketurunan) dan "ikhwan" (saudara bukan
seketurunan). Dalam Al-Qur'an, kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal
ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti saudara kandung (QS.
An-Nisa' :23), saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga (QS. Thaha : 29-30),
saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama (QS. Al-A'raf : 65),
saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham (QS. Shad : 23), persaudaraan
seagama (QS. Al-Hujurat : 10). Di samping itu ada istilah persaudaraan lain
yang tidak disebutkan dalam Al-Qur'an yaitu saudara sekemanusiaan (ukhuwah
insaniyah) dan saudara semakhluk dan seketundukan kepada allah.Quran bukan
hanya menyebut persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah) tetapi bahkan
menyebut binatang dan burung sebagai umat seperti manusia (Q/6:38). Sebagai
saudara semakhluk (ukhuwah makhluqiyah) Istilah "ukhuwah islamiyah."
Bukan bermakna persaudaraan antara orang-orang Islam, tetapi persaudaraan yang
didasarkan pada ajaran Islam atau persaudaraan yang bersifat islami. Oleh
karena itu cakupannya "ukhuwah Islamiyyah"bukan hanya menyangkut
sesama orang Islam namun juga menyangkut dengan non Muslim bahkan makhluk yang
lainnya. Misalnya, seorang pemiliki kuda, tidak boleh membebani kudanya dengan
beban yang melampaui batas kewajaran. Ajaran ini termasuk ajaran ukhuwwah
Islamiyyah. Bagaimana seorang muslim bergaul dengan kuda miliknya.
Dari ayat-ayat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Quran dan Hadist
sekurang-kurangnya memperkenalkan empat macam ukhuwah yaitu:
1. Khuwah 'ubudiyyah: Persaudaraan karena sesama makhluk yang tunduk kepada
Allah SWT.
2. Ukhuwah Insaniyyah atau basyariyyah: Persaudaraan karena sama-sama manusia
secara keseluruhan.
3. Ukhuwah wathaniyyah wa an nasab: Persaudaraan karena keterikatanketuruanan
dan kebangsaan.
4. Ukhuwah diniyyah, persaudaraan karena seagama.
Bagaimana ukhuwah berlangsaung, tak lepas dari faktor penunjang.Faktor
penunjang signifikan membentuk persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak
persamaan, baik persamaan rasa maupun persamaan cita-cita maka semakin kokoh
ukhuwahnya. Ukhuwa biasanya melahirkan aksi solidaritas. Contohnya diantara
kelompok masyarakat yang sedang berselisih, segera terjalin persaudaraan ketika
semuanya menjadi korban banjir, karena banjir menyatukan perasaan, yakni
sama-sama merasa menderita. Kesamaan perasaan itu kemudian memunculkan
kesadaran untuk saling membantu.
“Hai manusia! Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan
Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal
[bukan supaya saling membenci, bermusuhan]. Sungguh, yang paling mulia di
antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Mahatahu,
Maha Mengenal (Q.s. Al-Hujurat [49]: 13)
Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Suku, ras dan bangsa
mereka merupakan nama-nama untuk memudahkan, sehingga dengan itu kita dapat
mengenali perbedaan sifat-sifat tertentu. Di hadapan Allah SwT mereka semua
satu, dan yang paling mulia ialah yang paling bertakwa. Antara persaudaraan
iman dan persaudaraan nasional atau kebangsaan tidak perlu terjadi persoalan
alternatif, ini atau itu, tetapi sekaligus all at once. Seorang Muslim menjadi
nasionalis dengan paham kebangsaan yang diletakkan dalam kerangka kemanusiaan
universal. Dengan demikian ketika seorang Muslim melaksanakan ajaran agamanya,
maka pada waktu yang sama ia juga mendukung nilai-nilai baik yang menguntungkan
bangsanya.
B. Upaya Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah
Supaya ukhuwah islamiyah dapat tegak dan kokoh, maka tidak hanya dengan
perasaan atau perkataan saja, diperlukan empat tiang penyangga yaitu:
1. Ta’aruf adalah saling kenal mengenal yang tidak hanya bersifat fisik ataupun
biodata ringkas belaka, tetapi lebih jauh lagi menyangkut latar belakang
pendidikan, budaya, keagamaan, pemikiran, ide-ide, cita-cita serta problema
kehidupan yang dihadapi.
2. Tafahum adalah saling memahami kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan
kelemahan masing-masing, sehingga segala macam kesalah pahaman dapat dihindari.
3. Ta’awun adalah saling tolong menolong, dimana yang kuat menolong yang lemah
dan yang mempunyai kelebihan menolong yang kekurangan, dengan konsep ini maka
kerjasama akan tercipta dengan baik dan saling menguntungkan sesuai fungsi dan
kemampuan masing-masing.
4. Takaful adalah saling memberi jaminan, sehingga menumbuhkan rasa aman, tidak
ada rasa khawatir dan kecemasan menghadapi hidup ini.
Dengan empat sendi persaudaraan tesebut umat islam akan saling mencintai dan
bahu membahu serta tolong menolong dalam menjalani dan menghadapi tantangan
kehidupan, bahkan mereka sudah seperti satu batang tubuh yang masing-masing
bagian tubuh akan ikut merasakan penderitaan bagian tubuh lainnya. Seperti pada
hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang artinya
’’Perumpamaan orang-orang beriman dalam sayang menyayangi, cinta mencintai dan
tolong menolong sesama mereka seperti satu batang tubuh, yang apabila salah
satu batang tubuh menderita sakit, maka seluh badan akan merasakan sakit pula
karena tidak dapat tidur dan panas (H. R. Bukhori dan Muslim).
Supaya ukhuwah islamiyah tetap erat dan kuat, maka setiap muslim harus dapat
menjauhi segala sifat dan perbuatan yang dapat merusak dan merenggangkan
ukhuwah tersebut, sesudah menyatakan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara,
Allah SWT melarang orang-orang beriman untuk melakukan beberapa hal yang dapat
merusak dan merenggangkan ukhuwah islamiyah.
Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) bukanlah teori. Ini adalah ajaran
praktis yang bisa kita lakukan dalam keseharian. Karena itu, nikmatnya ukhuwah
tidak akan bisa kita kecap, kecuali dengan mempraktikannya. Jika delapan cara
di bawah ini dilakukan, Anda akan merasakan ikatan ukhuwah Anda dengan
saudara-saudara seiman Anda semakin kokoh.
1. Katakan bahwa Anda mencintai saudara Anda
Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah
dia mengatakan cinta kepadanya”. (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)
2. Minta didoakan dari jauh saat berpisah
Umar bin Khaththab berkata, Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw. untuk
melaksanakan umrah, lalu Rasulullah saw. mengizinkanku. Beliau bersabda,
“Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam doamu.â€
Kemudian ia mengatakan satu kalimat yang menggembirakanku bahwa aku mempunyai
keberuntungan dengan kalimat itu di dunia. Dalam satu riwayat, beliau bersabda,
“Sertakan kami dalam diamu, wahai saudaraku “. (Abu Dawud dan Tirmidzi,
hadits hasan shahih)
3. Bila berjumpa, tunjukkan wajah gembira dan senyuman
Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun
sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria”. (Muslim)
4. Berjabat tangan dengan erat dan hangat
Berjabat tanganlah acapkali bertemu. Sebab, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak
ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya
diampuni dosanya sebelum berpisah.” (Abu Dawud)
5. Sering-seringlah berkunjung
Nabi Muhammad saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, Pasti akan mendapat
cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung
karena Aku, dan saling memberli karena Aku. “ (Imam Malik dalam Al-Muwaththa)
6. Ucapkan selamat saat saudara Anda mendapat kesuksesan
Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bertemu
saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah
akan menggembirakannya pada hari kiamat”. (Thabrani dalam Mu’jam Shagir)
7. Berilah hadiah terutama di waktu-waktu istimewa
Hadits marfu’ dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena
hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati”.
(Thabrani)
8. Berilah perhatian dan bantu keperluan Saudara Anda
Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di
dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang
memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di
dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah
akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong
hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya”. (Muslim).
Dari ayat 11 dan 12 surat Al-Hujurat, ada enam hal yang harus kita hindari agar
ukhuwah islamiyah tetap terpelihara: Pertama, memperolok-olokan, baik antar
individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa
isyarat karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan
permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita
memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk
dari diri kita. Kedua, mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang
menyakitkan, apalagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar.
Manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh
martabatnya. Ketiga, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang
tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk
memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti
kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil
dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu
bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk
juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si
A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang
sifatnya justru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya.
Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.Keempat,
berburuk sangka, ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad).
Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau
keberhasilan. Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap
buruk lainnya yang bisa merusak ukhuwah islamiyah. Kelima, mencari-cari
kesalahan orang lain, hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita,
mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa
memperbaiki diri sendiri. Keenam, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang
lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya, apalagi bila hal itu
menyangkut rahasia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahasia orang
lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah
bagi kita untuk tidak membicarakannya.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika ukhuwah islamiyah kita
dambakan perwujudannya, maka segala yang bisa merusaknya harus kita hindari.
Bila ukhuwah sudah terwujud, yang bisa merasakan manfaatnya bukan hanya sesama
kaum muslimin, tapi juga umat manusia dan alam semesta, karena Islam merupakan
agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Karenanya mewujudkan ukhuwah Islamiyah
merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan ini.
Petunjuk al-Quran tentang ukhuwah
1. Tetaplah berkompetisi secara sehat dalam melakukan kebajikan, meski mereka
berbeda agama, ideologi, status: "fastaqul khairat."(Q/5:48). Jangan
berfikir menjadi manusia dalam kesaragaman, memaksa orang lain untuk
berpendirian seperti kita. Misalnya, Allah SWT menciptakan kita perbedaan
sebagai rahmat, untuk menguji mereka siapa diantara mereka yang memberikan
kontribusi terbesar dalam kebajikan.
2. Memelihara amanah (tanggung jawab) sebagai khalifah Allah dimuka bumi,
dimana manusia dibebani keharusan menegakkan kebenaran dan keadilan (Q/38:26).
Serta memelihara keseimbangan lingkungan alam (Q/112:4).
3. Kuat pendirian tetapi menghargai pendirian orang lain "lakum dinukum
wliyadin." (Q/112:4). Tidak perlu bertengkar dengan asumsi bahwa kebenaran
akan terbuka nanti dihadapan Allah SWT(Q/42:15).
4. Meski berbeda ideologi dan pandangan tetapi harus berusaha mencari titik
temu, "kalimatin sawa" tidak bermusuhan seraya mengakui eksistensi
masing-masing(Q/3:64).
5. Tidak mengapa bekerjasa dengan pihak yang berbeda pendirian dalam hal
kemaslahatan umum, atas dasar saling menghargai eksistensi, berkeadilan, dan
tidak saling menimbulkan kerugian.(Q/60:8) Dalam hal kebutuhan pokok (mengatasi
kelaparana, bencana alam, wabah penyakit). Solidaritas sosial dilaksanakan
tanpa memandang agama, etnis dan identitas lainnya (Q/2:272).
6. Tidak memandang rendah kelompok lain, tidak pula meledek atau membenci
mereka (Q/49:11)
7. Jika ada persilihan diantara kaum beriman, maka islahnya haruslah merujuk
kepada petunjuk al-Quran dan Sunah Nabi SAW.(Q/4:59).
C. Kendala dan Pemaknaan yang Keliru dari Ukhuwah
Prinsip Ukhuwah bukan sesuatu utopis, bukan pula suatu hal yang mustahil
diwujudkan, meskipun mewujudkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Setidaknya ada 3 kendala yang dihadapi setiap mukmin di dalam merealisasi
nilai-nilai ukhuwah islamiyah, yaitu:
1. Jiwa Yang Tidak Dirawat.
Ukhuwah Islamiyah sangat erat dengan keimanan. Iman merupakan sentuhan hati dan
gerakan jiwa; karenanya jiwa dan hati yang tidak diperhatikan atau jarang
diperiksa atau tidak dibersihkan akan menjadi lahan subur bagi munculnya
virus-virus jiwa yang membahayakan kalangsungan ukhuwah, seperti: takabur,
hasud, dendam, cenderung menzholimi, kemunafikan dll.
2. Lidah Yang Tidak Dikendalikan.
Menjaga lidah dengan berkata baik dan jujur serta menjaui kata-kata merusak dan
tercela, merupakan salah satu indikasi takwa kepada Allah swt. Firman Allah swt
:
Wahai orang-orang beriman bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan
perkataan yang benar (Q.S. al-Ahzab: 70 ).Bahkan memelihara lidah merupakan
tanda kesempurnaan iman, sabda Nabi saw : (Dan siapa yang beriman kepada Allah
dan Hari Akhir maka hendaknya ia berkata baik atau diam ).
3. Lingkungan Yang Kurang/Tidak Kondusif.
Kepribadian seseorang seringkali dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungannya.
Apalagi seseorang yang tidak memiliki kemampuan ta’tsir (mempengaruhi orang
lain), sehingga dengan mudah ia dipengaruhi lingkungan dimana ia harus
berinteraksi. Oleh sebab iotu Allah memerintahkan Nabi saw untuk senantiasa
bersabar bersama orang-orang yang multazim (komitmen) dengan ajaran Allah,
senantiasa taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt, firmanNya:( Bersabarlah
bersama mereka yang selalu berdoa kepada Allah di pagi dan petang hari, jangan
sekali-kai engkau berpaling dari mereka) QS al-Kahfi: 28.
Bila kita melihat kenyataan umat dengan kacamata ilmu dienul Islam, kita akan
melihat banyak kelompok yang menamakan dirinya pemersatu umat, tapi sebaliknya
merusak ukhuwah lslamiyah. inilah kelompok yang keliru dalam memberi makna
Ukhuwah. Misalnya:
1. Kaidah “yang penting tujuannya baik”
Ada yang berpendapat untuk menjalin ukhuwah lslamiyah memakai kaidah “yang
penting tujuannya baik, tidak mengapa caranya berbeda”. Prinsip ini ibarat hati
tanpa jasad, sebab syarat diterima amal ibadah adalah ikhlas karena Alloh dan
mengikuti Sunnah Rasulullah. “Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan
Rabbnya maka hndaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia
mempersekutukan seorang pun dalam beribadah.” (QS.Al-Kahfi:110).
2. Yang penting hasilnya
Prinsip yang penting hasilnya, adalah prinsip orang kafir dan hewan. “Dan
orang-orang yang kafir itu bensenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti
makannya binatang-binatang. (QS.Muhamad:12)
3. Berpegang umumnya orang.
Misalnya menjalin ukhuwah dengan mengadakan peringatan maulid nabi, drum band,
dzikir bersama adalah budaya yang telah memasyarakat. Cara ini bukanlah cara
untuk menjalin ukhuwah Islamiyah, tetapi menjauhkan umat dan yang haq dan
mengajak umat berpecah-belah, kanena masing masing golongan ingin membanggakan
dirinya dan merendahkan kelompok yang lain. “Dan jika kamu menuruti kebanyakan
orang-onang yang di muka bumi ini niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan
Allah. (QS.Al-An’am:116)
4. Menjalin ukhuwah dengan mendirikan partai atau golongan (atau diatas satu
partai/golongan)
Ini pun keliru, karena apabila umat diajak kepada golongan atau partai berarti
hilang ukhuwah dan ganti “adawah” (permusuhan).
5. Cari persamaan dan jangan cari perbedaan .
Inilah kaidah hizbi, ingin mewujudkan ukhuwah lslamiyah dengan mencari
kesamaannya dan mendiamkan kemungkaran. Syaikh lbnu Baz berkata, “Betul, kita
wajib bekerja sama dalam hal yang kita sepakati untuk membela dan mendakwakan
kebenaran serta mentahdzir yang menjadi larangan Alloh Subhanahu wa ta’ala dan
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,. Adapun hendaknya kita memberikan
udzur dan membiarkan perselisihkan secara mutlak tidaklah bisa diterima.
6. Jangan menentang arus
Ada lagi yang berpendirian bahwa untuk menjaga keutuhan ukhuwah Islamiyah,
jangan menyinggung perasaan umat, bangkitkan semangat mereka agar tetap
menerima Islam. Lalu mereka berdalil dengan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam : “Mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan
dibuat-lari.” (HR.Bukhari 1/38, Muslim 3/1359, dan Iainnya). Dalil di atas
memang benar, tapi salah penerapan. Prinsip ini menolak perintah Alloh yang mengharuskan
ingkar mungkar sebagaimana disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 71 yang itu
merupakan ciri khas orang mukmin.
7. Orang Yahudi dan Nasrani adalah saudara.
Orang yang mengatakan bahwa umat Islam harus menjalin ukhuwah dengan orang
Yahudi dengan alasan mereka juga memeluk agama Islam, karena Islam artinya
menyerah kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala. Ketahuilah dia itu orang yang digaji
oleh orang Yahudi untuk merusak Islam.Pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam. ada orang Yahudi yang mengaku dirinya muslim, lalu dibantah oleh
beliau, “Kalau kamu mengatakan muslim, tunaikan ibadah haji!’ Mereka menjawab,
“Kami tidak diwajibkan haji, bahkan menolak.”
8. Menjalin ukhuwah dengan ahlul bid’ah dan orang musyrik
Ada yang berkata, “Tidak mengapa mereka menjalankan bid’ah dan syirik, karena
mereka juga beribadah, jika mereka keliru, kita pun keliru.” lnilah prinsipnya
orang jahil, tidak mau tahu tentang batalnya amal dan gugurnya Islam.
Barangkali kalau dia mendengar cerita bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib
RadhiAllahu anhu membakar Syi’ah Råfidhåh yang menuhankan beliau, begitupun
ketika beliau memerangi orang Khawarij, padahal mereka (khåwarij) adalah ahli
dalam membaca Al-Qur’an, khusyuk shalatnya, hitam keningnya bahkan mereka ikut
jihad.“Orang musyrik adalah musuh Alloh Subhanahu wa ta’ala , wajib dijauhi
sebagaimana perintah-Nya : “Dan berpalinglah dari orang-orang yang
musyrik(QS.Al Hijr:94).
D. Manfaat Ukhuwah Islamiyah
Banyak manfaat yang dapat kita nikmati dengan jalinan ukhuwah islamiyah yang
kuat. Kita akan merasakan kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis.
Perbedaan yang ada tidak akan menimbulkan pertentangan, justru akan menjadikan
kehidupan kita semakin indah. Tingkat kesenjangan sosial dalam masyarakat juga
akan terkikis dengan sendirinya. Hal ini karena semangat ukhuwah islamiyah yang
menyatukan kita semua.
Selain itu, ada juga manfaat lain yang berhubungan dengan iman kita. Manfaat
dari ukhuwah islamiyah yang kita terima sehubungan dengan tingkat keimanan kita
diantaranya adalah:
1. Merasakan lezatnya iman
2. Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan
yang dilindungi)
3. Mendapatkan tempat khusus di surga (Q.S. 15:45-48)